CLOSE ADS
CLOSE ADS

Ya, Saya 50 Tahun. Terus Masalahnya Apa?

Share via

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! –

– Chairil Anwar

KITA sering terjebak atau bahkan terhukum oleh kata. Kata-kata seperti jompo, renta, sepuh, uzur, atau yang eufimistik seperti wreda, sering membuat kita mengubah diri, menyesuaikan dengan konsep yang terbawa oleh kata itu.

Memang, ada konstruksi sosial yang terbawa bersama kata-kata itu. Nah, karena itu juga, kita bisa melawan atau mengubahnya. Dengan cara membangun sikap baru terhadap angka-angka usia itu, memaknainya dengan lebih produktif.

Misalnya, kita telah memasuki atau melampaui usia 50 tahun, menjadi Quinquagenarian, apa pun label yang diberikan orang atau oleh diri kita sendiri, kita adalah orang yang sama.

Kita tetap manusia yang serba mungkin. Usia 50 dan sesudahnya tak menutup pintu kemungkinan untuk kita. Mungkin malah bisa memberi lebih banyak.

Faktanya memang usia kita bertambah. Kita semua melewati tahun-tahun, periode per sepuluh tahunan dengan tantangan, kemungkinan, dan harapan yang berbeda.

Bila hidup kita jalani seperti mendaki bukit, dan usia 50 adalah salah satu puncak bukit perjalanan kita mendaki hidup kita, maka kita sesungguhnya sampai pada satu posisi dengan memungkinkan kita punya pandangan yang luas, jauh, dan karena itu indah.

Di puncak itu, saatnya membangun sebuah kesadaran yang jika diekspresikan dalam kalimat mungkin seporong larik Chairil Anwar pas untuk kita gumamkan, “amboi, jalan sudah bertahun kutempuh!”

Di puncak bukit usia 50 tahun kita itu, duduklah sejenak, tenangkan hirup dan hembus napas, lalu pandangi jalan yang telah tertempuh. Adalah penting untuk menyadari apa-apa yang menjadi pencapaian – yang sesuai maupun yang datang sebagai kejutan yang diberikan hidup pada kita.

Penulis Lindsay Woolman, di situs Love To Know, menulisGood Things About Turning 50”Saya ingin mengutip dan membahas sepuluh hal pertama dalam senaraiannya itu. Pada usia melampaui 50 tahun, kita seharusnya: 

  1. Tidak lagi terlalu menakutkan bermacam-macam hal yang tak relevan dengan hidup dan diri kita.
  2. Tidak lagi takut memiliki dan menyatakan pendapat.
  3. Tahu benar siapa diri kita sendiri.
  4. Memiliki apresiasi hidup kita dan hidup orang lain yang lebih besar.
  5. Lebih mudah menertawakan diri sendiri dan ini penting karena ini bisa menjadi sumber kebahagiaan dan penyembuhan yang ampuh.
  6. Lebih mudah menganggap hidup sebagai sesuatu yang tidak terlalu serius dan karena itu lebih nikmat untuk dijalani.
  7. Berhenti memperhatikan apa yang dipikirkan orang lain, karena buat apa? Mereka toh sebenarnya tak peduli pada kita.
  8. Tak lagi berkeringat-keringat untuk memperjuangkan hal-hal kecil karena kita tahu apa prioritas hidup kita.
  9. Memiliki kebijaksanaan (bukan sok bijak, ya) hidup untuk membantu Anda dan juga orang lain membuat keputusan yang baik.
  10. Bisa lebih tenang, damai dan berdamai dengan dunia yang ruwet, kita toh bisa memilih berada di lingkaran kecil mana yang menguatkan kita.

Kesadaran dan sikap-sikap tersebut bisa membantu kita membangun sudut pandang baru pada hidup dengan usia 50 tahun. Usia dan hidup yang harus dirayakan! | Hasan Aspahani / Biografia.id.

Foto oleh Edo Rezkia / Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Mariah Carey, Duta Mahapuan, dan Kepercayaan Diri
Buya Syafii Maarif Next post Buya Syafii Maarif (1935-2022) yang Mengingatkan Agar Negeri Ini Tak Mentereng di Luar tapi Remuk di Dalam