CLOSE ADS
CLOSE ADS

Usia dan Persepsi Kurva yang Salah

Share via

“MANUSIA itu kadang suka aneh. Tiap kali berdoa minta panjang umur, tapi takut jadi tua. Terus maunya apa? Muda terus?” teman saya kirim pesan Whatsapp pagi-pagi, nyerocos dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Saya kenal benar karakter teman saya itu, seorang warga senior, mahapuan, penggemar Jane Fonda, sehat jiwa dan raga, dan aktif dalam berbagai kegiatan, sosial dan bisnis. Seorang perempuan kumpulan yang tak terhentikan, unstopable! Pasti ada teman lain yang bikin dia kemerungsung pagi-pagi.

“Memangnya ada yang minta doa berumur pendek, Mbak?” tanya saya. Saya tahu pertanyaan saya agak melenceng dari maksud gerutuannya. Dia juga pasti tahu saya sedang main-main dengan komentar itu.

“Ya, nggak ada. Ngawur kamu. Itu pesimis namanya. Agama apapun kan mengajarkan umatnya untuk memohon dipanjangkan umur,” balasnya.

Dia lalu nyerocos eh menulis lebih panjang. Itulah dia. Kalau ada hal-hal yang tak berkenan di hatinya dia tak tahan untuk tak ngedumel. Saya sudah cukup lama berteman dan paling sering jadi sasaran ocehannya.

Katanya, kalau Tuhan menyuruh kita meminta panjang umur itu artinya kita disuruh jaga kesehatan, jaga kewarasan, atur finansial, supaya apa? Supaya tak jadi beban orang banyak. Supaya kita punya kesempatan berbuat baik bagi lebih banyak, menolong orang lebih banyak.

“Masak gitu aja harus dijelasin. Udah dijelasin juga gak paham-paham. Susah memang mengubah persepsi orang yang entah belajar di mana sama siapa,” katanya.

Lalu dia pun menulis panjang tentang konsep pemberdayaan masyarakat usia senior – dia paling tak suka kata jompo, manula, dll itu – dan bagaimana mengubah persepsi masyarakat tentang hal itu.

“Soal bangsa ini adalah produktivitas yang tak maksimal. Susah kita maju kalau sebagian besar masyarakat kita tak produktif, misalnya warga senior yang akan semakin banyak persentasenya. Ketidakproduktifan bukan karena tak mampu secara fisik, mereka mampu, tapi kesalahan persepsi dan itu bisa dan harus diubah,” katanya.

“Siaap, Mbak!” jawab saya. Saya selalu siap dan senang mendengar ocehannya. Banyak benarnya, sih. Dia termasuk yang mengubah pandangan saya tentang usia tua dan menua.

Saya teringat satu kutipan dari Jane Fonda – sosok idolanya itu yang pernah kami bahas.
Kita, kata Jane Fonda, masih hidup dengan paradigma lama tentang usia sebagai lengkungan. Ya, sepeti grafik dengan kurva parabola. Menaik, mencapa puncak lalu menurun.

“Itu adalah metafora lama: Anda dilahirkan, Anda memuncak di usia paruh baya dan menurun menjadi tua,” kata Jane Fonda yang tahun ini berusia 82 tahun. Dan itulah salahnya. Kenapa grafiknya tak boleh terus naik? | Foto oleh Edward Cisneros dari Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Tips: Kesepian dan Merasa Tersingkir, Itu Persoalannya
Next post Riset: Investasi Pertemanan, Sumber Kebahagiaan