CLOSE ADS
CLOSE ADS

Mochar Lubis: Sastrawan, Wartawan, dan Hipokrisi orang Indonesia

Share via

DI buku ini seorang Mochar Lubis (1922-2004) benar-benar bicara lurus. Tegas tanpa tedeng aling-aling. Memang pas bila oleh kerabatnya dia dijuluki sebagai orang yang keras kepala.

Tajuk rencana yang ia tulis di korannya “Indonesia Raya” selalu mengusik ketenangan penguasa. Berkal-kali dibredel, dan ia pun keluar masuk penjara.

Ada sebuh buku yang menghimpun wawancara berbagai media, yaitu “Mochtar Lubis Bicara Lurus, Menjawab Pertanyaan Wartawan” (Yayasan Obor Indonesia, 1995).

Berikut beberapa jawban Mochtar Lubis atas beberapa pertanyaan yang masih sangat relevan untuk kita hari ini. Dikutip dari tiga wawancara, ia bicara soal sastra dan jurnalisme, kemunafikan orang Indonesia, dan fungsi sastra dalam masyarakat.

Sastrawan dan Wartawan

Apakah sastrawan harus mengangkat kehidupan rakyat kecil dalam tema karya ciptaannya? Kalau demikian halnya, maka tugas sastawan akan jauh tertinggal bila dibandingkan apa yang dilakukan wartawan. Kasus yang menyangkut petani di Jenggawah, Jember, lebih cepat ditangkap wartawan.

Tak mungkin kita membandingkan karya sastrawan dengan laporan wartawan. Tentu saja setiap sastrawan memiliki kebebasan penuh untuk memilih tokoh-tokoh ciptaannya. Jika dia hanya mengenal tokoh dunia golongan berada, tentulah dia tak mungkin dapat menulis secara kreatif tentang penghidupan rakyta kecil.

Seorang sastrawan yang baik harus peka terhadap segala segi kehidupan dan bukan hanya kehidupan manusia saja, tetapi juga tentang segala makhluk Allah yang lain. Termasuk di dalamnya mengenai tanaman, daratan, lautan, gunung, lembah, sungai, danau, derita dan bahagia, air mata, tertawan, dan sebagainya.

Sastrawan tak akan pernah ketinggalan bila dibandingkan wartawan! Karena sastrawan memang tidak berlomba dengan wartawan, dan sia-sialah usaha seorang wartawan, yang hendak berlomba dengan sastrawan. Bidang berita adalah urusan wartawan, sedang makna kehidupan seharusnya tugas sastrawan.

Apa konsep Anda di dalam menciptakan karya sastra?

Saya senantiasa berusaha menampilkan makna dari kehidupan. Dalam Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Tidak Ada Esok, Harimau! Harimau!, Maut dan Cinta, dan dalam berbagai cerpen-cerpen saya, selalu saya coba menamplkan makna dari kehidupan dan nilai-nilai manusia.

Ada yang bagus, ada yang buruk, ada yang bahagia, sedih, dan lainnya. Tetapi semua mencoba mengajak pembaca untuk berpikir dan menentukan bagi dirinya sendiri tentang makna hidupnya, dan tempatnya berdiri dalam kehidupan ini.

(Memorandum, 20 Januari 1980).

Tentang Hipokrisi dan Kemunafikan

Tanpa menutup mata pada keberhasilan pembangunan – terutama dalam bidang fisik – kita melihat munculnya penyakit-penyakit sosial di tengah masyarakat. Faktor apa yang paling dominan sebagai penyebab penyakit itu?

Faktor yang dominan dalam masalah yang Saudara tanyakan itu dalam bahasa kerennya adalah faktor hipokrisi alias kemunafikan. Ucapan tiada berjumpa dengan perbuatan!

Sikap tidak berdisiplin dan tidak mau bertanggung jawab tampak semakin meluas dalam masyarakat kita. Misalnya tabrak lari, tidak memenuhi peraturan, menghindari tanggung jawab dan lain-lain. Gejala apakah ini? Apakah sikap itu menurut Bung merupakan sikap dasar bangsa kita?

Jawaban atas pertanyaan Saudara ini sama juga, kemunafikan. Lain kata, lain perbuatan. Pemberantas korupsi melakukan korupsi. Hakim yang harus membina keadilan malahan menjadi tukang peras dan koruptor. Jaksa menembak mati terdakwa dan pembela terdakwa main hakim sendiri. Orang yang tidak berdosa dijatuhi hukuman.

Ini semua merupakan gejala-gejala tidak berdisplin, tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan sendiri, mau main gampangan dan jadi serampangan.

(Panji Masyarakat, No.332, Agustus 1981).

Sastra dan Masyarakat

Apakah sastra bisa mengubah masyarakat, atau sastrawanya yang harus mengubah masyarakat?

Dua-duanya! Dalam sejarah terbukti bahwa sastra itu dapat mempengaruhi sikap, pikiran, dan menggerakkan manusia atau masyarakat untuk berbuat sesuatu. Umpanyanya, buku-buku Charles Dickens di Inggris yang menguraikan dengan sangat mengharukan nasib buruh di masa industrialisasi di Inggris. Anak-abak bekerja, perempuan bekerja di pertambangan, bukan main sangat merawankan kalau kita baca kembali buku-buku Charles Dickens. Ini menimbulkan kesadaran masyarakat Inggris untuk memperbaiki nasib buruh di sana.

Kemudian Zola di Prancis, pengaruh roman-romannya kepada orang Prancis akan rasa kemanusiaan besar sekali. Di Amerika Serikat, buku Uncle Tom’s Cabin yang mendorong banyak orang di Amerika Serikat dengan kemanusiaan mereka sendiri, sehingga timbul gerakan.

Ketika belum bisa dilakukan undang-undang, banyak orang Amerika Serikat dari sebelah utara yang terlibat dalam menyelundupkan budak-budak kulit hitam dari bagian selatan Amerika Serikat, untuk bebas ke utara.

Sehingga akhirnya timbul pertentangan-pertentangan yang terpaksa mencetuskan perang saudara. Akhirnya barulah orang Negro secara undang-undang dibebaskan dari perbudakan mereka. Di Tiongkok, Kong Hu Cu dan yang lain sangat mempengaruhi peradaban manusia.

Jadi saya rasa sastrawan dan buku-buku hasil cipta mereka itu kalau benar-benar mengandung kebenaran pikiran-pikiran yang mereka majukan, itu, seperti menanam benih yang bisa tumbuh selama 20 tahun, atau lebih lama lagi setelah lama dia mati, atau bisa tumbuh lebih cepat, tergantung dari kondisi lingkungannya.

(Pikiran Rakyat, 7 Januari 1986)

| Hasan Aspahani / Biografia / Sumber: Mochtar Lubis Bicara Lurus, Menjawab Pertanyaan Wartawan (Yayasan Obor Indonesia, 1995)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Acha Septriasa, Persimpangan Besar ke Film dan Perjuangan Melepas Bayangan Irwansyah
Next post Cerita Titiek Puspa Jadi Penyanyi Istana yang Gagal Nonton Beatles di Prancis