CLOSE ADS
CLOSE ADS
Menua Bahagia

Menua, Berbeda, Berbahagia: Menolak Ageisme

Share via

JIKA nanti 90 tahun umurku, aku belum tua. Itu artinya, ada sembilan anak usia 10 tahun, di halaman sekolah kehidupan, riang bermain,  sepanjang hari, memutar gasing di bumi, dan  mengulur layang-layang ke langit yang tinggi.

(“Aku Belum Tua”, 2010, Hasan Aspahani).

Jangan bayangkan kerepotan merukunkan sepuluh anak berusia sepuluh tahun. Jangan bayangkan keriuhan ketika sepuluh bocah bermain dan berkumpul.

Bayangkan hidup yang bergairah. Bayangkan kegembiraan yang mudah terbangkitkan. Bayangkan suara tawa yang dengan mudah dilepaskan.

Itulah yang ingin disampaikan oleh penyair Hasan Aspahani dalam sajaknya “Aku Belum Tua”. Frasa “aku belum tua”, bukanlah penolakan pada takdir. Tahun demi tahun kita tak bisa menolak pertambahan angka pada bilangan usia.

Yang ingin diucapkannya dalam sajaknya adalah: ubah sudut pandang kita tentang usia. Kelak ketika kita sampai pada 90 tahun jangan membayangkan diri sebagai seorang jompo, mengemis rasa kasihan, sendiri, terlupakan, terperangkap di kursi roda.

Sesungguhnya apa sih hakikat menjadi tua? Sekadar perubahan  fisik pada tubuh? Atau cuma pertambahan angka usia?

 Kultur kita memang kerap memojokkan orang tua. Idiom-idiom dan pepatah seperti “tua-tua keladi”, “tua bangka”, “sudah bau tanah”, “ingat umur”,  kadang-kadang ditafsirkan sebagai cara lain untuk mengatakan: hei, kamu sudah tua, tahu dirilah.

Padahal kita menua dengan cara yang berbeda-beda dalam hal mental, fisikal, dan emosional. Ashton Applewhite dalam buku “This Chair Rock – A Manifesto Againt Ageism” menjelaskan hal itu.

 Menurutnya, variabitilas manusia membuat usia kronologis sebagai patokan mengukur “kepantasan menjadi tua’ menjadi semakin tidak dapat diandalkan untuk menilai seseorang “seharusnya” berpenampilan seperti apa, harus mendengarkan apa, dll.  

Kategorisasi dalam berbagai hal memang membuat hidup lebih sederhana, tapi karena itu juga generalisasi tidak bisa dihindari. Tetapi itu kerap terasa tidak adil, karena itu memilah “kepatutan’ berdasarkan kapasitas dan kecenderungan personal terasa lebih masuk akal.

Persoalannya adalah apa yang diseebut sebagai ageisme. Apakah ageisme? Prasangka atau sterotipe berdasarkan usia seseoang. Itulah  wujud generalisasi dan kategorisasi dan itu sekali lagi kian terasa tidak adil.

Merujuk pada pendapat Applewhite, tindak berdasar ageisme terjadi ketika ada seseorang atau kita sendiri yang mengatakan kepada kawan kita, “hei, untuk orang seusia kami baju yang kamu pakai itu pantas banget ya kelihatannya.”

Atau, “wow, kamu kelihatannya sehat banget deh untuk ukuran orang seusiamu”. Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi sesungguhnya itu adalah bukti bahwa ageisme itu telah terintenalisasi dalam benak kita, bahwa orang pada usia tertentu harusnya seseorang berpenampilan begini, begini, dan begini, bukan begitu, begitu dan begitu.

Di bukunya, Applewhite, mengutip hasil penelitian para ahli di Pew Center. Tua identik dengan pelupa, bermasalah mengontrol kandung kemih, aktivitas seksual yang menurun, pensiunan, dan memiliki cucu dan rambut penuh uban.

“Beberapa dari hal itu tidak bisa dihindari jika kita  berumur panjang. Tetapi yang mana, kapan, dan bagaimana kita menghadapinya, situasinya sangat bervariasi,” kata Applewhite.

Persepsi responden Pew Center membuktikan betapa ageisme itu memang nempel dalam pikiran kita. Padahal itu hanyalah menua secara fisik. Mungkin itu tak terhindarkan, tapi kita bisa mengatur atau mencari cara sendiri bagaimana menjadi tua secara mental dan emosional. Fisik dan usia boleh secara alamiah menua, tapi kita kan bisa tetap “berjiwa muda”, menolak menjadi uzur secara mental dan emosional.

Aktiflah secara fisik, tetap terkoneksi dengan lingkaran sosial kita, lapangkan ruang penjelajahan mental dan gerakkanlah jiwa secara emosional, bergembiralah, temukan kegairahan dengan dengarkanlah musik dari band lama favorit kita yang dirilis dengan aransemen baru atau yang dikover penyanyi baru, tontonlah film-film sineas baru di samping menonton ulang film lama favorit kita, baca buku baru.   

Jangan takut menjadi tua, tapi jangan segan untuk menjadi beda, lepas dari kerangka ageisme dan jadilah orang yang menikmati hidup dan berbahagia. | HA / Biografia.

Foto oleh Brooke Cagle / Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Noni Purnomo Previous post Bagaimana Noni Purnomo Mempertahankan Filosofi Kebahagiaan dan Membesarkan Blue Bird?
Next post Mariah Carey, Duta Mahapuan, dan Kepercayaan Diri