CLOSE ADS
CLOSE ADS

Masih Bisa Tertawa? Anda Belum Tua!

Share via

Oleh Hasan Aspahani

SAYA punya beberapa rekan kerja senior. Saya menyukai mereka karena satu hal: mudah sekali tertawa. Dan yang ditertawakan pun sebagian besar adalah kisah-kisah diri kami sendiri.

Konon, kata para ahli dan orang bijak yang memebadakan manusia dan hewan adalah tawa. Manusia punya kemampuan untuk mengekspresikan kebahagiaan dengan tersenyum, kesenangan dengan tertawa, tentu juga ekspresi emosi lain seperti merengut, menangis, dan tercenung.

Maka, tertawa itu adalah hal kodrati. Tertawa itu kelebihan yang diberikan kepada dan untuk manusia oleh Tuhan.

Setelah memutuskan ambil pensiun dini dari kantor media, dengan segala puncak pencapaian prestasi yang pernah saya raih bersama tim kerja saya, saya kemudian mencari rekan kerja untuk kerja-kerja lepas, atau proyek kreatif dengan satu kriteria wajib: bersama mereka masih bisa ngobrol dan tertawa bersama.

Banyak pekerjaan menarik tapi ketika bertemu dengan calon mitra dengan siapa saya bekerja sama, dan saya merasa, ‘hmmm, kayaknya susah diajak ngobrol nih”, maka pekerja itu kami tolak.

Ya, tertawa penting. Tertawa adalah kemampuan melihat sisi gelap dari kehidupan dan membawanya ke sisi cerah. Tertawa adalah kemampuan membalikkan persepsi. Menjadikan hal-hal yang menjadi membebani justru menjadi energi baru.

“Engkau tak berhenti tertawa karena engkau menua, ” kata George Bernard Shaw, “engkau menua justru ketika engkau berhenti tertawa.”

Mari kita tertawa!

| Foto oleh Bagas Muhammad dari Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Bung Karno, Antara Politisi dan Negarawan
Next post Baharudin Lopa, Jaksa Agung 1,5 Bulan, Kasus Besar, dan Kematian yang Mencurigakan