CLOSE ADS
CLOSE ADS

Ketika Maggie Kuhn Bergerak Melawan Ageisme

Share via

ADA enam mitos tentang usia tua: 1. Tua adalah penyakit, bencana; 2. Orang tua itu tak perlu dianggap; 3. Orang tua tak perlu menikmati seks; 4. orang tua tak lagi berguna; 5. Orang tua tak punya kekuatan apa-apa; 6. Orang tua itu semuanya saja saja.

Namanya juga mitos. Itu semua salah! Yang mengatakan itu adalah Maggie Kuhn, penggagas gerakan The Grey Panthers, yang berhasil mengubah persepsi dan memperjuangkan hak-hak orang tua. Dia melawan kesalahan persepsi itu dan gerakannya menjadi sebuah gerakan besar yang berhasil.

Siapakah Maggie Kuhn? Apakah gerakan The Grey Panthers itu? Maggie Kuhn (1905 – 1995) adalah seorang aktivis dalam arti yang sebenarnya. Ia memulai gerakan Grey Panthers, setelah dia dipaksa untuk pensiun dari pekerjaan yang ia cintai pada usia pensiun 65 tahun, pada tahun 1970.

Alih-alih menerima pensiun secara pasif, Maggie Kuhn memutuskan untuk bersatu dengan orang-orang lain yang ia kenal yang juga dipaksa untuk pensiun.

Minat Maggie Kuhn pada hak-hak orang tua sudah ada jauh sebelum ia mendirikan Grey Panthers. Ia terlibat dengan Konferensi Gedung Putih tentang Penuaan pada tahun 1961, dan dia terkejut melihat bagaimana cara orang-orang di beberapa panti jompo dirawat.

Apa yang benar-benar memicu tekadnya untuk membentuk organisasi aktivis adalah ketika dia sendiri menjadi korban dari kurangnya hak untuk orang yang lebih tua pada tahun 1970 itu.

Grey Panthers dikenal karena mengadvokasi reformasi panti jompo dan memerangi ageism, dan terkenal dengan klaim bahwa “orang tua dan wanita merupakan sumber energi manusia terbesar yang belum dimanfaatkan dan dinilai rendah oleh Amerika.”

Tekadnya untuk melawan status quo tidak hanya akan membentuk organisasi Grey Panther, tetapi juga tergambar dari pemilihan nama Grey Panther.

Grey Panthers mengacu pada Black Panthers. Hewan buas yang meradang menerjang, “Itu nama yang menyenangkan. Ada militansi tertentu, bukan sekadar penerimaan yang patuh atas apa yang dilakukan negara.’

Maggie Kun mendedikasikan hidupnya tidak hanya untuk orang tua tapi secara luas ia memperjuangkan hak asasi manusia, keadilan sosial dan ekonomi, perdamaian global, integrasi, dan pemahaman tentang masalah kesehatan mental.

Selama beberapa dekade, ia menggabungkan aktivisme dengan merawat ibunya — yang memiliki cacat yang mengharuskannya menerima bantuan dalam perawatannya — dan seorang saudara lelaki yang menderita penyakit mental.

The Grey Phanter menjadi rangkaian gerakan dan jaringan advokasi lokal multi-generasi di Amerika Serikat yang menghadapi atau tepatnya melawan ageisme dan banyak masalah keadilan sosial lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Riset: Investasi Pertemanan, Sumber Kebahagiaan
Next post Jangan Pernah Dihantui Rasa Sesal