CLOSE ADS
CLOSE ADS

Cerita Titiek Puspa Jadi Penyanyi Istana yang Gagal Nonton Beatles di Prancis

Share via

YANG tidak pernah berubah dari Titiek Puspa adalah kegembiraan yang ia pancarkan ketika ia bernyanyi. Tontonlah video musik “Sekate-kate” di mana ia bernyanyi bersama Vega Antares.

Titiek Puspa tahun ini berusia 84 tahun. Banyak sekali ia diberi bonus usia oleh Tuhan untuk rata-rata orang Indonesia.

Apa rahasia hidup bahagia dan panjang umurnya? Di Kanal Metro TV News, 23 Oktober 2021, ia bercerita kebiasaannya tidur telentang sejak usia 35.

Kebiasaan itu ia lakoni karena dulu, perjalannya manggung dari kota ke kota naik bis atau kereta dengan jalan dan rel yang buruk. Ia merasa guncangan kendaraan bikin wajahnya sakit dan kendur.

Karena itu dia tidur telantang, paling tidak, katanya, selama enam jam, membuat wajahnya nyaman tak tertarik kesana kemari.

Ia tak pernah ke salon. “Tanya saja salon di Jakarta mana yang saya pernah saya datang. Nggak ada. Saya itu kampungan banget, gak pernah ke salon, saya suka merawat sendiri,” katanya.

Rahasia lain kebahagiaan hidup Titiek Puspa adalah hidup dengan ikhlas.

Sejak kecil Titiek suka menyanyi, tapi orangtuanya tak merestuinya menjadi penyanyi, profesi dulu dianggap yang tercela, memalukan orangtua.

Kelak ayahnya yang meninggal dipangkuannya justru minta maaf dan berterima kasih padanya, karena Titieklah yang banyak menghidupi keluarga besarnya, anak, cucu, cicit, dari 12 saudaranya.

Tanpa restu Titiek kecil tak pernah berhenti menyanyi. Dia sekolah berpindah-pindah dari Temanggung, Magelang, terus ke Semarang, ia selalu ikut lomba menyanyi pelajar mewakili sekolah.

“Kebetulan menang terus, terus saya ikut Bintang Pelajar di RRI tingkat nasional, menang juga, sama RRI disuruh jadi penyayi tetap,” kata Titiek mengenang. Tiap kali tampil honornya diselipkan di songbook.

Dari situ jalan karirnya terbentang. Titiek pun jadi pegawai honorer di RRI tahun 1960.

Kemandirian dan gaya hidup Titiek tak berubah dengan naiknya pamor dan popularitasnya sebagai pennyanyi. Ia masih suka mengerjakan segala hal sendiri, selain merawat diri juga menjahit pakaian. Ia beli kain sendiri, menggunting pola, dan menjahit sendiri.

Jadi Penyanyi Istana
Titiek memanen popularitas sejak menyanyi rutin di RRI. Dari situ pula jalan menuju babak hidup yang lain terbuka.

“Tahu-tahu ada utusan istana datang. Titiek Puspa dipanggil Presiden, katanya. Saya bilang, ngawur aja. Nggak mungkin… memangnya ada urusan apa?” kenangnya.

“Pokoknya ke istana. Tapi jangan pakai rok gitu, harus pakai kain,” kats si utusan.

Apa kesan Titiek Puspa ketika ketemu Bung Karno pertama kali? “Beliau bilang, oh , iki tho Titiek Puspa, jadi kowe pinter nyanyi?”

Titiek yang hingga saat ini tak bisa melupakan pukau kharismanya, cakepnya, dan betapa hebatnya sosok Bung Karno saat itu, tak bisa menjawab.

Bung Karno lantas menyuruhnya bernyanyi. Tanpa mik, berdiri di ruang istana hanya beberapa langkah dari sang presiden.

“Suaramu apik banget,” kata Bung Karno memuji, lalu memerintahkan ajudannya, “Catet, mulai hari ini Titiek Puspa jadi penyanyi istana”. Titiek mengaku saat itu seperti mau ambruk. Lemas karena disergap rasa bangga.
Sebagai penyanyi istana, Titiek Puspa pernah berkeling dunia bersama rombongan Presiden empat puluh hari. Di tiap negara yang dikunjungi Titiek diiringi musisi Idris Sardi menyayikan lagu-lagu Indonesi. “Idris Sardi sampai tiap mau makan nangis, karena bosan makan roti terus,” kenang Titiek.

Pengalaman yang tak terlupakan Titiek adalah gagal nonton konser Beatles di Prancis. Ia sudah beli tiket, karena pada saat pertunjukan tak ada jadwal dia harus menyanyi.

“Tinggal satu jam lagi, eh disuruh nyanyi. Sebentar lagi dijemput siap-siap main, perintah Presiden,” kata Titiek. Momen bersejarah itu pun lewat. Dan dia tak pernah mendapatkan kesempatan lagi.Padahal harga tiket konser itu sendiri tak murah bagi Titie.

Ia profesional. Ia tetap jalankan tugas. “Pergi dengan Bung Karno itu rasanya membanggakan karena bisa memberikan sesuatu yang beliau kehendaki,” kata Titiek.

| Biografia / Dedy Tri Riyadi / Sumber: Youtube Kanal Metro TV News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Mochar Lubis: Sastrawan, Wartawan, dan Hipokrisi orang Indonesia
Next post Bung Karno, Antara Politisi dan Negarawan