CLOSE ADS
CLOSE ADS
Buya Syafii Maarif

Buya Syafii Maarif (1935-2022) yang Mengingatkan Agar Negeri Ini Tak Mentereng di Luar tapi Remuk di Dalam

Share via

NAMA Ahmad Syafii Maarif masuk dalam daftar sembilan orang yang akan dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Dewan Pertimbangan Presiden. Pelantikan kala itu dijadwalkan Senin, 19 Januari 2015.

Buya Syafii Maarif, dipilih mewakili tokoh agama. Wantimpres terdiri dari berbagai kalangan seperti tokoh agama, unsur militer, dan pemimpin organisasi sosial.

Namun mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu menolak. Ia sampaikan penolakan itu ketika seorang deputi di Kementerian Sekretariat Negara meneleponnya.

Kabar kepergian Buya Syafii Maarif yang meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jumat (27/5/2022), dalam usia 86 tahun pukul 10.15 WIB itu mengingatkan kita pada peristiwa tujuh tahun lalu.

Kita mengingat apa alasan beliau menolak. “Siang tadi ditelepon diminta saya ikut di wantimpres. Namun, saya merasa sudah cukup. Mohon Presiden mencari yang lebih muda saja,” katanya sebagaimana diberitakan Tempo, Sabtu, 17 Januari 2015.

Pada Buya Syafii kita masih melihat sosok seorang tokoh dengan nurani yang jernih, yang kian langka di negeri ini. Ia tidak rakus jabatan, tak silau pada posisi dalam struktur kekuasaan. Ia tahu kapan harus bilang cukup.

“Saya serahkan kepada orang lain saja. Dulu saya pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung selama lima tahun, hampir sama dengan posisi Wantimpres. Cukuplah, tak perlu lagi,” kata Buya kepaeda Merdeka.com, Sabtu (17/1/2015).

Menolak bukan berarti tak peduli atau lepas tangan. Publik tahu dia mendukung Jokowi. Beliau katakan saat itu akan memberikan nasihat atau pertimbangan apapun pada Jokowi jika dibutuhkan tanpa perlu duduk di lembaga Wantimpres.

“Sebagian di dalam, sebagian di luar. Saya pilih di luar. Bisa saja kalau hanya minta nasihat kan,” katanya, seperti dikutip Merdeka.com.

Dan janji itu ia jalankan. Beberapa kali Buya Syafii mengkritik Presiden Joko Widodo dengan sangat keras.

Selasa, 27 Januari 2015, Buya Syafii menilai Presiden Joko Widodo tidak tegas berakibat konflik antara KPK dan Polri. Ketika dibentuk tim independen, Buya Syafii mengatakan Presiden seakan-akan baru siuman. “Saya bersyukur Jokowi akhirnya siuman,” ujarnya.

Buya kala itu juga berharap Presiden Jokowi bisa mendengarkan suara hati nurani yang benar.

“Tadinya saya tidak suka, tapi sekarang sudah benar, mudah-mudahan Presiden benar-benar mendengar hati nuraninya,” katanya, seperti dikutip Merdeka.com.

Kritik keras terakhir yang dilancarkan Buya Syafii ia tulis dalam sebuah artikel opini di Kompas 10 November 2021. Ia melihat kondisi negeri ini dengan perumpamaan “Mentereng di Luar, Remuk di Dalam”.

Apa yang disampaikan beliau jadi pembicara luas, banyak kalangan menyetujuimya, karena menggambarkan dengan pedih apa yang sedang dihadapi bangsa ini. Beliau menulis:

Jika republik ini diibaratkan sebuah restoran tertentu, bersih, mentereng, dan gagah di bagian depan, tetapi jorok dan berantakan di bagian dapur. Dalam bahasa Minang ada ungkapan “rancak di labuah” (tampak elok di jalan, tetapi di rumah sebenarnya manusia papa). Atau, mentereng di luar, remuk di dalam.

Tentu perbandingan ini tidak selalu tepat, karena ada bagian-bagian yang bagus di dapur republik ini, sekalipun mungkin baru berupa riak-riak kecil.

Gelombang besarnya adalah seperti gambaran restoran itu. Sudah berjalan selama 23 tahun era Reformasi yang semula mengusung slogan anti-KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), ketiga penyakit sosial ini malah semakin kambuh dari waktu ke waktu.

Buya Syafii Maarif

Banyak hal dan situasi buruk lain di negeri ini beliau paparkan di tulisan tersebut. Juga sindiran tajam pada Presiden Joko Widodo: “… Akhirnya, selamat buat Presiden Joko Widodo yang semakin dihargai di tingkat global, tetapi tengok jugalah suasana dapur republik kita yang masih kocar-kacir dengan wajah suram.”

Ketua Umum Muhammadiyah dua periode (1998-2005) ini lahir di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau pada 31 Mei 1935, dari pasangan Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan Fathiyah.

Dia adalah bungsu dari 4 bersaudara, menempuh jenjang pendidikan dari dasar nyaris seluruhnya di sekolah Muhammadiyah, lalu melanjutkan ke IKIP Yogyakarta, S2 di Ohio University, dan S3 di University of Chicago.

Sejak 2002 Buya Syafii Maarif bersama sejumlah tokoh mendirikan Maarif Institute sebuah lembaga pembaruan pemikiran dan advokasi untuk mewujudkan praksis Islam sehingga keadilan sosial dan kemanusiaan menjadi fondasi keindonesiaan sesuai cita-cita sosial dan intelektualisme beliau.

Selamat jalan, Buya Syafii, Guru Bangsa, tokoh yang sampai akhir hayat kukuh menjaga independensi, tegas dalam sikap, berani bersuara, bertintegritas, dan menjadi teladan dalam banyak hal, terutama kesederhanaan hidup, yang tak terbuai kemegahan materi duniawi. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. | Hasan Aspahani / Biografia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Ya, Saya 50 Tahun. Terus Masalahnya Apa?