CLOSE ADS
CLOSE ADS

Bung Karno, Antara Politisi dan Negarawan

Share via

SOLICHIN Salam menulis buku “Bung Karno Putera Fajar”. Terbit pertama kali tahun 1966. Buku itu terus dicetak ulang. Hingga cetakan ke-5 tahun 1987. Ada satu bab dalam buku itu yang menyajikan tanya jawab berbagai hal penting terkait sosok Bung Karno, berikut petikannya:

Apakah cita-cita hidup Bung Karno sejak mudahnya hingga sekarang?

Cita-cita hidupku ialah mengabdi kepada Tuhan, kepada bangsa, kepada manusia. Service of God, service of freedom.

Percayakah Bung Karno kepada Impian?

Kalau impian saya sendiri percaya, jika impian orang lain entah.

Apakah Bung Karno percaya ramalam Jayabaya?

Saya tidak tahu percaya atau tidak percaya tentang ramalan-ramalan itu. Pada akhirnya semua itu tergantung kepada kita sendiri, dan tidak kepada ramalan-ramalan itu. Hanya, memang kadang-kadang ada manusia yang diberi ‘clair-voyance’ oleh Tuhan, yaitu ‘weruh sadurungin winarah’.

Apakah Bung Karno itu monotheis atau panteistis-monotheis?

Menurut saya Tuhan itu tidak bersemayam di atas. Tuhan bukan satu persoon, satu persoonljke God yang bersinggasana di langut ketujuh. Akan tetapi Tuhan adalah zat yang meliputi seluruh alam ini bukan hanya di sana atau di sini saja melainkan ada di mana-mana akan tetapi Satu, Esa. Apakah itu namanya monotheis ataukah panteistis-monotheis, saya tidak tahu.

Apakah yang mendorong Bung Karno yakin beragama Islam? Karena keyakinan atau politis?

Saya memeluk agama Islam karena keyakinan. Saya berkeyakinan bahwa Tuhan itu adalah Satu dan Islam adalah agamaku.

Tidakkah Bung Karno pernah menyatakan dirinya sebagai seorang Marxis?

Saya hanya menggunakan ‘denk-methode’-nya. Marxisme bagi saya adalah suatu ‘denk-methode’ untuk mengerti dan menganalisa sejarah.

Mungkinkah seorang marxis itu muslim?

Mungkin. Karena saya hanya menggunakan denkmethode-nya saja. Antara marxis dan komunis itu berbeda. Komunisme itu satu cabang dari marxisme.

Benarkah bahwa seorang politikus itu adalah karakterloos?

Tidak. Saya anggap sebagai kewajiban jusru dalam politik kita harus menjunjung tinggi karakter.

Bung Karno lebih menonjol sebagai politikus daripada negarawan. Benarkah?

Tidak. Kenegarawananku adalah karena politikku, dan politikku adalah karena kenegarawananku.

Bung Karno tidak pernah mau mengakui kesalahan atau kegagalan politik. Benarkah?

Tidak bernar. Karena, hal itu saya pandang sebagai pendirian, dan keyakinan politik saya memang demikian.

Bung Karno seorang revolusioner atau evolusioner?

Saya adalah seorang revolusioner. Untuk menjadi seorang revolusioner, harus mengetahui hukum-hukum evolusi.

Apakah Bung Karno percaya teori Darwin atau penganut Darwinisme?

Apakah yang dimaksud dengan Darwinisme itu? Kalau menurut saya, Darwinisme is een grote evolutie-leer. Barangkali yang dimaksud dengan pertanyaan ini ialah Darwinisme yang mengatakan bahwa manusia berasal dari monyet. Padahal itu hanya sebagian kecil saja dari Darwinisme. Memang saya percaya kepada hukum evolusi. Saya adalah seorang evolusionis, apakah itu berarti dus saya seorang Darwinis? | Biografia / Hasan Aspahani / Sumber: Bung Karno Putra Fajar (Gunung Agung, 1986)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Cerita Titiek Puspa Jadi Penyanyi Istana yang Gagal Nonton Beatles di Prancis
Next post Masih Bisa Tertawa? Anda Belum Tua!