CLOSE ADS
CLOSE ADS

Baharudin Lopa, Jaksa Agung 1,5 Bulan, Kasus Besar, dan Kematian yang Mencurigakan

Share via

Baharuddin Lopa SH hanya satu setengah bulan menjadi Jaksa Agung. Dari 6 Juni 2001 hingga 3 Juli 2001.Tapi dialah sosok pendekar hukum yang pernah ada negeri ini. Dia bersih dan tegas. Dia seakan tak pernah takut. Dia tak kenal kompromi. Dia sangat ditakuti koruptor.

Ia wafat pada usia 66 tahun, di Rumah Sakit Al-Hamadi Riyadh, Arab Saudi, di negara di mana dia pernah menjadi duta besar Indonesia.

Secara resmi diumumkan ia meninggal akibat serangan jantung. Tapi kematian itu mencurigakan. Kenapa? Dia sedang mengusut banyak kasus besar.

Pria lurus dan bersih kelahiran Mandar, Sulawesi Selatan, pada 27 Agustus 1935, ini dikenal sebagai jaksa yang tidak tak takut pada apa pun, kecuali Allah.

Merujuk profilnya di situs resmi Kejaksaan Indonesia, Lopa pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Aceh, Kalimantan Barat serta Sulawesi Selatan, dan menjadi kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta.

Di manapun dia ditugaskan sebagai jaksa dia usut siapa saja yang melanggar hukum terutama mereka yang melakukan korupsi, tindakan yang merusak sistem dan merugikan rakyat banyak.

Ketika ia menjabat Jaksa Agung, menggantikan Marzuki Darusman, ia langsung bekerja keras memberantas korupsi.

Ia langsung memburu Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang dikabarkan sakit di Singapura.

Ia juga memutuskan untuk mencekal Marimutu Sinivasan. Ia juga menyidik keterlibatan Arifin Panigoro, Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid dalam kasus korupsi.

Gebrakan Lopa itu sempat dianggap bernuansa politik tapi Lopa tak mundur. Karena itu kematiannya yang mendadak mengundang banyak pertanyaan.

Lopa, sekali lagi, hanya 1,5 bulan, tapi ia berhasil menggerakkan Kejaksaan Agung untuk menuntaskan kasus korupsi menyeret ke pengadilan deretan konglomerat dan pejabat yang diduga terlibat KKN.

Sepanjang karirnya di dunia penegakan hukum tak jarang pengusutannya berakhir dengan pemindahan tugas sebelum usahanya tuntas. Dan dia tak peduli.

*

Minggu 24 Januari 1993, harian Kompas menerbitkan wawancara dengan beliau dalam rubrik “Lebih Jauh Dengan Prof. Dr. Baharuddin Lopa S.H.”.

Kala itu nama beliau jadi pembicaraan publik setelah mundur hanya beberapa jam dari pemilihan gubernur Sulawesi Selatan oleh DPRD setempat yang penuh rekayasa dan pengaturan suara.

Tentu saja tak cukup satu wawancara untuk memahami dan memetik hikmah kehidupan beliau. Tapi dari wawancara itu kita bisa mencatat sejumlah petikan sangat berharga.

Tenang Kesederhanaan Hidup: “Kunci hidup bersih adalah kesederhanaan. Kalau kita bisa hidup sederhana, maka mudah kita terhindar untuk menerima pemberian-pemberian tidak halal. Sekali kita terpancing dan melakukan penyelewengan, sulit untuk menjadi berani menegakkan keadilan.”

Tentang Kepentingan Umum dan Keadilan: “Saya selalu berusaha melihat suatu masalah dengan mengujinya dari dua sisi. Pertama apakah manfaatnya bagi kepentingan umum dan apakah sesuai dengan keadilan. Kalau saya melihat suatu kondisi tidak sesuai dengan kepentingan umum dan keadilan, saya akan gunakan segala daya untuk mengubah keadaan.”

Tentang Kebenaran Tidak Ikut Arus: “Bahwa ternyata saya melawan arus, itu kan tergantung pada kondisinya. Kalau kondisinya sudah sesuai dengan prinsip kepentingan umum dan keadilan, toh saya tidak melawan arus. Dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, kita tidak perlu lihat arus.”

Tentang Wibawa Penegakan Hukum: “Wibawa yang sejati, harus didukung oleh penegakkan hukum. Kalau hukum ditegakkan, wibawa akan terangkat dengan sendirinya dan kepercayaan akan meningkat.”

Tentang Keberanian: “Setiap usaha mulia, selalu mendapat ujian. Kita dituntut untuk tak boleh takut dan maju terus. Jika kita mau menjadi orang beriman, maka makin besar ujiannya kita harus semakin terdorong untuk melakukan tugas. Itu pegangan saya. Kalau jabatan menghambat tugas Illahi, letakan jabatan itu. Kebenaran dan keadilan tidak boleh bergantung pada jabatan.”

Tentang Keseimbangan Pendidikan Umum dan Agama: “Keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan agama itu penting untuk membentuk kepribadian kita. Di samping itu, lewat keseimbangan pendidikan, kita bisa menghayati arti pentingnya kesederhanaan sebagai cara hidup. Dengan hidup sederhana, kita bisa lebih mudah untuk berpegang pada prinsip kerakyatan secara konsisten.”(biografia/hasan aspahani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Masih Bisa Tertawa? Anda Belum Tua!
Next post Menua: Sehat, Aktif, dan Produktif