CLOSE ADS
CLOSE ADS
Noni Purnomo

Bagaimana Noni Purnomo Mempertahankan Filosofi Kebahagiaan dan Membesarkan Blue Bird?

Share via

Nama perusahaan taksi Blue Bird diambil dari simbol burung biru sebagai pertanda kebahagiaan yang ditemukan di banyak budaya. Kebahagiaan apa yang dikembangkan dalam budaya perusahan transportasi ini?

SEJAK 2019, Noni Purnomo menjadi komisaris utama Bluebird. Bagaimana generasi ketiga ini mempertahankan bahkan membesarkan perusahaan transportasi ini setelah melewati berbagai masa kritisnya?

Kepada Gita Wiryawan yang mengundangnya menjadi tamu di kanal Youtube End Game, Noni bercerita banyak.

Antara lain, ia ungkapkan bagaimana ia terlibat dalam bisnis keluarga itu sejak kanak-kanak.

Cikal bakal Blue Bird adalah bisnis yang dimulai almarhumah neneknya dari garasi rumah. Usaha keluarga itu dimulai dengan dua mobil.

Sebelumnya mereka punya bisnis bemo. “Paman saya jadi supirnya, dan ayah saya jadi keneknya,” kenang Noni.

Noni kecil kerap membantu neneknya menerima uang setoran. “Bantu menggulung-gulung uang,” kata Noni mengenang.

Selama bisnis transportasi itu masih di rumah, maka Noni tiap hari ikut bergaul dengan pengemudi dan karyawan. “Bangun tidur ketemu pengemudi, mau tidur ketemu mereka lagi,” kata Noni.

Apa yang dipelajari Noni sejak kecil itu? “Pelajaran pertama yang saya peroleh adalah respecting everyone,” katanya.

Noni Purnomo (Foto: Humas Indonesia)

Neneknya, dan keluarganya menanamkan nilai-nilai itu. Noni merasa kultur kerja di Blue Bird tidak membedakan siapa yang bekerja dengan pemilik usaha.

“Karena kita satu. Setiap malam pun kita juga makan barengan. Satu meja besar, bareng karyawan bareng pengemudi, jadi kekeluargaan itu benar-benar terbentuk dari awal,” kata Noni.

Noni remaja masuk SMA Tarakanita, karakternya lebih terbentuk lagi di sekolah itu. “Saya ikut drum band, dilatih dengan disiplin ala tentara,” kenangnya.

Baginya disiplin itu faktor paling penting berikutnya dan itulah yang berat.

“Mendisiplinkan diri itu yang paling susah. Itu yang saya pelajari dari drumband Tarakanita. Sampai dilatih oleh tentara, makan kerupuk tak boleh bunyi. Gimana tuh?” kata Noni.

Sementara di rumah, Noni terus dibentuk karakternya oleh neneknya yang menurutnya sangat Jawa, yang mengajarkan tata krama diajari sejak kecil.

“Kami dididik untuk respecting terhadap culture, meskipun kami dididik secara modern,” ujarnya.

Misalnya di keluarganya, Noni merasakan semua anak diberi kesempatan yang sama, semua anak tak dibeda-bedakan.

“Saya dididik utuk melihat manusia sebagai manusia bukan gender. Jadi banyak pembangunan karakter saya dibangun dari keluarga,” tamnbahnya.

Gita Wiryawan bertanya, bagaimana kultur bagus dalam keluarga itu sampai ke supir? Semua bersumber dari neneknhya, kata Noni, rekrutmen dilakukan neneknya, training, sampai urusan mencuci mobil.

“Nenek tiap pagi memastikan semua mobil harus dalam keadaan prima. Subuh dia bisa tiba-tiba datang, meskipun kantor sudah nggak di rumah lagi. Nenek datang ke cabang-cabang. Ngecek subuh-subuh, kalau belum bersih mobil belum mobil keluar,” ungkap Noni.

Neneknya, kata Noni, dengan cara itu menunjukkan bahwa kebersihan kendaraan, modal utama bisnis mereka itu, penting sekali dan semua orang harus peduli.

Neneknya juga yang membangun filosofi bisnis Blue Bird. Nama perusahaan taksi Blue Bird diambil dari simbol burung biru sebagai pertanda kebahagiaan yang ditemukan di banyak budaya.

“Tapi kan ada banyak kebahagiaan. Jadi kebahagiaan kami apa? Nenek pengajar hukum, beliau sebenarnya tak tahu apa tentang bisnis, karena keterdesakan saja makanya berbisnis,” kata Noni. Kebahagiaan yang ingin diperoleh oleh Blue Bird adalah the happiness of giving. “Setiap hal yang kami lakukan di Blue Bird ada giving factor,” papar Noni.

Di Blue Bird tiap keputusan ada filosofinya. Itu yang membuat semua orang terlibat dengan nilai perusahaan, nilai-nilai filosofi itu tertanam dalam diri setiap orang yang bekerja di Blue Bird.

“Nenek saya bilang hanya orang yang bahagia yang bisa membuat orang lain bahagia. Maka yang harus kita bikin bahagia orang kita sendiri,” katanya.

“Maka beliau mengajarkan kita take care our self supaya automatically we can take care each other, dan itu genuinely care. Bukan karena harus taat pada SOP,” tambah Noni.

Semakin jauh terlibat dalam pengelolaan Bluebird Noni belajar bahwa perusahaan boleh punya value bagus kalau tak ada kontrol bagus the value tidak akan sustain.

“Pelajaran dari ayah dan nenek saya adalah bagaimana kita mengontrol integritas dimulai dari seleksi awal,” ungkap Noni.

Bluebird merekrut pengemudi dengan jasa psikolog, ditanya keluarga di kampung.

Kenapa? Bluebird mencari akar keterhubungan. Dan itu perlu, sebab kalau misalnya ada pengemudi yang ingin berbuat yang tak sesuai nilai-nilai perusahaan mereka akan segan, karena koneksinya terlalu dalam.

“Bluebird itu dibangun dengan kerja keras dan disipln tinggi, nilai-nilai dibangun dari keluarga dipeluas ke seluruh keluarga bluebird,” kata Noni. | Biografia / Dedy Tri Riyadi / Sumber: Kanal Youtube Gita Wiryawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Seharusnya Kita Sangat Siap Memasuki Usia Tua
Menua Bahagia Next post Menua, Berbeda, Berbahagia: Menolak Ageisme