CLOSE ADS
CLOSE ADS

Acha Septriasa, Persimpangan Besar ke Film dan Perjuangan Melepas Bayangan Irwansyah

Share via

Berita tentang kematian saya dilebih-lebihkan, kata Mark Twain. Ketika pengarang Amerika itu mengucapkan kalimat itu, tentu saja dia masih hidup. Karena itu ucapannya menjadi lucu dan kabar itu tentunya berlebih-lebihan.

Pesohor memang mudah sekali kena rumor. Dan rumor kematianlah yang paling lekas menyebar, apalagi di era medsos, di mana berita bisa lekas sekali menyebar, menjadi viral.

Baru-baru ini artis Acha Septriasa yang dikabarkan meninggal. Mantan pasangan duet Irwansyah itu sehat-sehat saja.

Ia masih main film, membesarkan anak dan tahun lalu mendampingi suaminya di Australia.

Karir keaktoran pemaran Utama Wanita Terbaik dalam FFI 2012 dalam film Test Pack You’re My Baby, yang ia bangun sejak 2020 itu malah semakin cemerlang.

Apa rahasianya? Di kanal kanal Youtube Meet The Artist Muvila Exclusive, Acha Septriasa, menjelaskan kiat-kiat sukses dan bagaimana bertahan di industri film.

Intinya totalitas. Dalam film-filmnya ia sering diberi peran perempuan lemah dan harus beradegan nangis.

“Ingin kembangkan di bidang akting gimana membuat nangis itu tida mejadi cengeng. Tapi gak papa juga, dari situ aku bisa berkiprah sejauh ini,” katanya.

Apa arti Piala Citra baginya? Acha menjawab baginya pribadi bukan pengaruhnya pada honor dan lain-lain, bukan itu benefitnya.

“Tapi lebih ke pada recognition-nya bahwa saya pernah ditulis di museum film indonesia, dan itu nggak banyak,” katanya.

Tapi, ia lekas-lekas menambahkan, bahwa dia juga tidak bisa melulu bangga dengan hal-hal yang itu itu saja.

“Teman-teman kita yang baru aktor Idonesia yang muda-muda sudah melanglang buana main di Hollywood,” katanya.

Di kanal Youtube “Titi dan Tian”, Juni 2020, kepada Titi Kamal, Acha yag sedang di Australia menjawab pertanyaan terkait hal lain.

Titi Kamal yang pernah bekerja sama dengan Acha menilai orangnya profesional dan kooperatif banget. “Di luar akting Acha juga teman yang superfun,” kata Titi.

Ketika ditanya apa yang diperlukan aktor yang sukses?
Acha menjawab, “Dari dulu pantang menyerah, selalu menerima kesempatan sekecil apapun yang ada”.

Ia mulai casting iklan, model majalah, sebelum dapat kesempatan main film.

“Saya suka banget AADC (Titi Kamal main di film situ). Nah pas lihat AADC saya mimpi pengen bisa main film, kayaknya bisa, belum tahu arahnya mana, casting lewat mana,” katanya.

Intinya, kata Acha: tetap fokus, terus bermimpi, fokus, pasti bisa kesapaian.

“Apapun tawaran yang datang jangan pernah underestimated. Saya dulu main di video klip. Akhirnya dari stu dibawa main film,” kenangnya.

Kesempatan itu datang karena network orang-orang yang pernah bekerjasama dengnnya.

Siapa yang tahu Acha pernah jadi narator di stasiun televisi? “Dari situ saya sadar bagaimana kerja di belakang layar, di studio kayak gini, modulasi suara harus jelas, kayak baca berita,” katanya. Pengalaman itu terpakai ketika dia harus berperan jadi reporter di sebuah film.

Aapa pengalaman tidak enak seorang Acha? Acha dulu sempat berada di persimpangan, dan dia harus memilih mau nyanyi atau main film.

Acha terkenal sebagai penyanyi duet berpasangan dengan Irwansyah, sampai menghasilkan empat album yang semuanya sukses.

Beberapa kali main film mereka juga dipasangkan. Lalu akhirnya mereka harus menjalani karir terpisah.

“Melepaskan imej itu yang susah. Itu berjuangnya yang berat,” kata Acha.

“Sampai sekarang kalau googling tetap aja, duet Acha -Irwansyah. Perjuangannya di situ,” ujar Acha yang akhirnya memilih berkarir total di film.

” Tempatku memang di film. Saya benar-benar harus bersemangat lagi mulai dari awal di film,” ujar Acha.

Dan pilihannya benar. Pemilik nama asli Jelita Septriasa, kelahiran 1 September 1989, termasuk pelakon dengan bayaran termahal.

Lebih dari 30 film telah ia bintangi. Beberapa filmnya segera akan ditayangkan. Ia memulai karir sebagai gadis sampul majalah remaja pada 2004. 2016 Acha menikah dengan Vicky Kharisma. | Biografia / Dedy Tri Riyadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Artikel: Malam akan Kelam tapi Tidak di dalam Jiwa
Next post Mochar Lubis: Sastrawan, Wartawan, dan Hipokrisi orang Indonesia